Percakapan di pagi hari (Sabtu, 2 Juni 2007) antara Daffi yang masih tidur dengan mamanya.

“Daffi … bangun … mandi … !!!”
“Gak mau …”
“Gak mau? Biarin aja nanti gak diajak Papa jalan-jalan pake motor … !!!”

Daffi menoleh sesaat ke arah saya, dan ….

“WUUUAAAAAAA … !!!” Daffi menangis histeris.
“Mangkanya cepet mandi sana ….” lanjut mamanya.

Sambil masih terisak Daffi bangun dan berjalan perlahan ke kamar mandi diikuti mamanya yang siap memandikan.

Daffi memang paling suka kalau saya ajak muter-muter naik motor. Menelusuri jalan-jalan di sekitar rumah. Melewati pasar kaget (pasar dekat rumah yang hanya digelar pagi hari hingga menjelang siang). Melewati gang-gang kecil. Bukan hanya Daffi yang menikmati ritual keliling-keliling ini. Saya yang sehari-hari penat dengan kegiatan rutin kantor merasa terhibur dengan keceriaan Daffi.

Sambil menunggu Daffi selesai dengan mandinya, saya nyalakan TV untuk mengikuti berita-berita hangat yang sehari-hari selalu terlewatkan karena kesibukan kantor.

“Ayo Pa … jalan-jalan …” Daffi muncul tiba-tiba dengan senyum khas-nya. Masih bugil dan handuk masih berada di kepala. Saya kaget. Bukan kaget karena kebugilannya. Wajahnya terlihat seperti hangus. Cemong sana-sini.

Waduh … pasti mamanya memandikan Daffi dengan air yang dicampur dengan obat PK. Daffa (kakaknya) yang sedari tadi sibuk membaca buku komik, tertawa terbahak-bahak melihat adiknya yang wajahnya kelihatan seperti setan belang.

“Mpiy .. Mpiy … coba ngaca deh … !!!” teriak Daffa.

Saya secepat kilat mencolek Daffa sambil melotot. Saya tidak mau kehilangan keceriaan Daffi pagi itu. Tidak mau Daffi jadi sedih atau nangis karena mukanya kelihatan menakutkan. Biarlah dia tetap ceria tanpa mengetahui kondisi wajahnya. Tapi … terus terang … saya juga tidak dapat menahan tawa melihat senyum Daffi saat itu.

Daffi yang kebingungan melihat kakaknya tertawa terpingkal-pingkal segera berusaha menggeser kursi ke arah cermin. Segera saya panggil Daffi yang terlihat sudah berusaha naik ke kursi untuk melihat wajahnya di cermin.

“Daffi! … sini papa foto dulu .. !” Daffi yang memang paling suka difoto segera mendatangi saya dan langsung pasang muka manis. Saya segera mengeluarkan HP SE K790i dari kantong celana, nggak mau kehilangan momen, dan … jepret …

“Mana pah .. mana pah …” Seperti biasa Daffi langsung segera menghampiri saya untuk melihat hasil jepretannya. Saya tahan nafas. Siap untuk melihat Daffi kecewa. Siap untuk melihat Daffi nangis. Siap untuk nggak jadi muter-muter naik motor berdua Daffi.

Nggak disangka-sangka … Daffi ikut ketawa terbahak-bahak. Dan kamipun semua tertawa sepuasnya.

dsc02668.jpg dsc02669.jpg
dsc02671.jpg dsc02673.jpg

Akhirnya, pagi itu saya bahagia muter-muter naik motor sambil membonceng Anak Gosong yang juga bahagia.

Sudah lama sekali saya ingin memiliki blog pribadi. Blog yang secara rutin saya update. Blog yang jujur, bebas, dan tanpa keraguan. Blog yang berisi tentang keseharian saya.

Sudah beberapa kali saya membuat blog. Tetapi selalu saja terhenti, terbengkalai, mati. Penyebabnya selalu klise. Malas meng-update. Kenapa malas? Malas yang saya rasakan selalu berpangkal pada perasaan/mood saya saat itu atau terlalu banyaknya pertimbangan-pertimbangan tentang pantas tidaknya artikel yang akan saya posting tersebut dipublikasikan.

So … sekarang saya mulai kembali membuat blog dari NOL. Mudah-mudahan bisa bekelanjutan, bisa sebagai tumpahan uneg-uneg, bisa sebagai tempat bertanya dan diskusi dengan para blogger lain.